Senandung Suara-Suara Minor

Deskripsi

(Cuplikan tulisan sebagai pengantar buku oleh Prof. Dr. Alex Lanur, OFM).

Bila terjadi 'benturan' dan konflik di antara para warga Negara, maka salah satu cara atau jalan yang kadang-kadang ditempuh bukannya memadu 'kekuatan', tetapi malahan mengadu 'kekuatan' tersebut sama lain. Keragaman warga Negara dalam masyarakat Indonesia masih menunjukkan 'belum meratanya kekuatan' dalam masyarakat tersebut. Hal itu, antara lain tampak dalam belum meratanya kesejahteraan dan kemakmuran yang seharusnya merata di seluruh penjuru tanah tumpah darah tersebut.

Kiranya keadaan tersebut juga turut ditentukan adanya lapisan-lapisan dalam masyarakatnya. Demi mudahnya, masyarakat tersebut dikelompokkan menjadi 'kelompok masyarakat pusat' (center) dan 'kelompok masyarakat pinggiran' (periphery) dan 'kelompok masyarakat lapisan atas' (upper class) dan 'kelompok masyarakat lapisan bawah' (lower class). Pengelompokkan ini sedikit banyak sudah ditentukan oleh banyak sedikitnya pemeluk agama yang tertentu, banyak sedikitnya suku bangsa yang tertentu dan bahkan oleh kuat tidaknya pengaruh budaya yang tertentu dan bahkan oleh kuat tidaknya pengaruh budaya yang tertentu dalam masyarakat itu.

Selain itu pengelompokan tersebut juga turut ditentukan oleh kedudukan dan atau kepentingan sosial, politis dan ekonomis para warga dan atau kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Dan dalam situasi seperti itu kiranya agak sulitlah membayangkan bahwa 'kelompok masyarakat pinggiran' dan atau 'kelompok masyarakat bawah' itu mendapatkan porsi hak-haknya dan menikmatinya sebagaimana mestinya. Kelompok yang akhir ini biasanya juga disebut kelompok kecil.

Dalam upaya untuk membantu kelompok yang akhir ini mendapatkan porsi haknya dan menikmatinya, sdr. Redem Kono menawarkan suatu jalan keluar yang sangat relevan. Tawaran tersebut ditampilkan dalam rupa sebuah buku berjudul: Senandung Suara-Suara Minor, Hak-hak Minoritas menurut Will Kymlicka dan Relevansi Konteks Indonesia. [ ]